Agen Taruhan IBCBET – Mario Balotelli Pemberantasan Rasisme Belum berhasil- Saat training camp tim nasional Italy, Mario Balotelli sempat diganggu serangan rasial. Penyerang andalan AC Milan itu mengatakan, selama ini upaya untuk memberantas rasisme dari dunia sepakbola selama ini belum berhasil sama sekali.

Agen Bola, Agen Judi, Agen Bola Online, Judi Online, Casino Online, Togel Online, Tangkas Online, Bandar Bola, Agen Betting, Poker Online

terakhir Balotelli mendapat serangan serupa terjadi pekan lalu, saat dia sedang berlatih bersama timnas Italia di Coverciano, kejadian tersbut mengejutkan para pemain, pasalnya aksi tersebut dilakukan oleh pendukung Gli Azzurri sendiri.

Pada waktu itu Balotelli yang hanya berjarak kurang 50 meter  dari isi pelaku segera mengungkapkan keberatan dengan perlakuana terhadapnya. Kemudian ia memanggil Polisi untuk membubarkan sekitar 20 orang yang menyaksikan sesi latihan itu.

Agen Taruhan IBCBET – Balotelli mengatakan, insiden serangan rasial pada dirinya bukan disebabkan karena sikapnya yang penuh kontroversi. Tapi memang murni karena warna kulitnya hitam.

“Mereka tidak terbiasa melihat orang-orang yang berbeda, yang bukan (orang) putih, bukan karena saya (sosok) pemberontak tapi orang yang normal. Saya pikir yang tidak disukai orang-orang dungu itu adalah orang yang berbeda dan berlaku seperti apa adanya,” cetus Balotelli.

“Mereka itu orang-orang bodoh, mereka marah kepada saya. Mereka mengatakan hal-hal yang mengesalkan. Tapi saya tak melakukan apapun yang berbeda dari orang lain,” lanjut Balotelli seperti dikutip Daily Star.
Bukan kali pertama Mario Balotelli mendapatkan perlakukan rasis. Striker Ac Milan ini pernah diserang oleh salah satu fans AS Roma saat menghadapi AC Milan pada tahun 2012.

Agen Bola – “Saya membuat kesalahan, sebagaimana dilakukan orang lain, dan saya sudah membayar kesalahan itu. Mungkin kalau saya berkulit putih orang tetap akan menganggap saya menyebalkan, tapi itu (serangan rasialnya) tidak akan sama. Pastinya tidak.”

“Kecemburaan adalah hal yang buruk, tapi saat cemburu pada orang yang berbeda dibanding mayoritas, dan mungkin punya banyak kelebihan dibanding Anda, itu menjadi kemarahan, dan itu memicu rasisme.”

“Saya tahu orang sedang memperjuangkan persoalan ini. Tapi setiap kali saya membahasnya orang akan membicarakannya selama tiga atau empat hari, tapi setelah itu semuanya kembali ke kondisi semua lagi,” seru pesepakbola 23 tahun itu

. . .