Agen Bola – Pelatih Brasil, Luis Felipe Scolari disebut akan meninggalkan jabatannya sebagai arsitek timnas Brasil dan bahkan pensiun dari dunia kepelatihan, terlepas apakah Brasil mampu menjadi juara dunia atau tidak.

Scolari

“Scolari adalah seseorang yang mempunyai jiwa yang tenang, dia orang yang terbuka dan jujur. Dia tahu bagaimana menanamkan semangat yang bagus dalam tim. Dan tahu banyak soal sepakbola berkat pengalamannya melatih di berbagai klub dan juga tim nasional,” ujar Direktur Teknik Brasil Carlos Alberto Parreira seperti dikutip Soccernet.

Agen Bola Online – Sebelumnya, 12 tahun lalu, hal serupa pernah dilakukan Scolari dengan meninggalkan Brasil usai membawa negaranya jadi juara dunia. Saat ini, Scolari akan memasuki periode kedua kepelatihannya di timnas Brasil setelah era pertamanya bersama Tim Samba dengan kesuksesan trofi Piala Dunia kelima dengan beberapa pemain hebat seperti ronaldo, roberto carlos, dan lain-lain.

“Anda tidak harus jadi pelatih terbaik dunia untuk melatih timnas Brasil. Anda hanya harus tahu cara mengatasi tekanan yang datang. Anda tidak boleh membuat keputusan yang bikin cemas banyak orang. Yang penting adalah bisa bekerja sama dengan media dan fans. Felipe Scolari sudah melakukan tugasnya dengan baik selama ini,” sambung pelatih yang mengantarkan Brasil jadi juara dunia 1994.

Di era keduanya bersama Brasil sejak resmi menjadi pelatih mulai November 2012, Scolari sudah memberikan gelar di Piala Konfederasi tahun lalu usai mengalahkan Spanyol 3-0 di final. Saat ini, pelatih 65 tahun itu sudah mendapat tuntutan besar untuk bisa memberikan trofi keenam Brasil di Piala Dunia karena status mereka sebagai tuan rumah.

Agen Taruhan IBCBET – Tapi apapun hasil yang digapai Scolari nantinya, dia disebut berencana mundur dari posisinya.  “Untuk saat ini ia fokus ke sepakbola. Kita lihat saja usai Piala Dunia. Apakah dia akan melanjutkan kariernya sebagai pelatih, dia akan melatih klub. Tapi saya pikir dia tidak akan lanjut. Dia punya satu anak di Portugal dan satu di Brasil. Melatih sambil mengurusi keluarga itu sulit.”

. . .